Adham Somantrie

Adham Somantrie

Tangkuban Parahu Trail Run

Posted on 2012-01-14 09:34:15. 620 views.

Melanjutkan kenekatan saya, pada Minggu (08/01), sehari setelah melaksanakan Mega Kuningan Half Marathon, saya bersama rekan-rekan Indo Runners melakukan trail run di Tangkuban Parahu, Jawa Barat.

Berangkat saat subuh bersama-sama dengan segerombolan pelari IndoRunners cabang Jakarta lainnya, lalu berkumpul dengan pelari IndoRunners cabang Bandung sekitar jam 08.00 di Pasteur Hyper Point, Bandung. Selain pelari dari Bandung, Bogor, Jakarta, dan sekitarnya, ternyata ada juga partisipan mancanegara: Lui Dwen-Tjin dan Leong Li-Shan, mahasiswi asal Malaysia yang sedang menimba sumur ilmu di Unpad.

Setelah acara sambut-sambutan dan silaturahmi, seluruh partisipan bersiap-siap. Saya dan beberapa pelari lainnya menyempatkan diri untuk sarapan. Walaupun saya hanya menemui lontong (polos, benar-benar hanya beras dibungkus daun) dan gorengan khas Indonesia. Tentunya tak lupa berfoto.

Sesampainya di Tangkuban Parahu, partisipan sedikit terkejut dengan cuaca yang sangat tidak bersahabat. Saya dan beberapa rekan bahkan sempat tidak berani keluar dari mobil karena hujan, udara dingin, dan angin yang kencang sekali. Badai. Mengerikan!

Tapi untuk apa saya bangun pagi-pagi dan berangkat jauh-jauh dari Jakarta? Setelah membeli jas hujan warna pink, kami berlima pun sepakat untuk keluar mobil dan menghadapi cuaca.

Memang kekuatan pikiran itu  lagi-lagi memegang peranan penting. Dengan niat yang kuat, alhasil cuaca buruk pun tidak menjadi masalah yang besar dalam lari kami.

Kilometer pertama tidak menjadi masalah yang besar. Sudut tidak terlalu curam, hanya tanjakan landai dengan medan yang berbatu. Apalagi hujan sudah mulai reda, sehingga kami bisa melepas jas hujan dan bergerak lebih leluasa tanpanya.

Namun, semua berubah setelah memasuki kilometer kedua. Bebatuan indah dengan jalanan landai sirna. Tergantikan dengan bukit berbatu nan terjal. Sangat terjal. Belum lagi terpaan angin kencang yang selain meniupkan suhu rendah, juga menggoyahkan pijakan kaki para partisipan.

Setelah tanjakan berbatu, trek kembali menurun. Kali ini cukup terbantu dengan banyaknya tumbuhan yang melindungi para pelari dari terpaan angin. Walaupun karena hujan sebelumnya, tentu saja trek menjadi berlumpur, dan pastinya licin. Jika sebelumnya di medan berbatu saya masih bisa leluasa bergerak dengan sepatu Adidas ClimaCool Ride yang ringan dan fleksibel, namun untuk trek licin sepatu ini tidak banyak membantu. Terlebih di turunan. Tak sedikit korban yang terpeleset dan terjatuh, tapi untungnya tidak ada yang terluka parah, hanya lecet-lecet saja.

Setelah menyusuri turunan yang menantang itu, tibalah para peserta di titik henti berikutnya: di bibir kawah! Silakah menikmati video berikut.

Trek pun selesai di titik awal: parkiran mobil. Total jarak sekitar 4 hingga 5 kilometer yang ditempuh secara berjamaah selama 1 jam 20 menit.

Tak cukup sampai di situ. Beberapa partisipan merasa "kurang", apalagi pelari jalan raya. Begitu melihat aspal, mereka secara impulsif memutuskan untuk turun dari parkiran kawah ke gerbang depan dengan berlari. Tidak mau menumpang mobil.

Ya, ya, ya. Saya hanya berlari seperempat jalan, sisanya menumpang mobil. Hahaha. Tentunya setelah menghajar half-marathon dan bongkahan batu Tangkuban Parahu, kekuatan kaki sudah mulai ringkih. Selain itu, sudut jalanan cukup curam, membuat saya sulit untuk menjaga kecepatan berlari. Tentunya ini bisa berdampak buruk terhadap kaki kalau tidak kuat. Jadi, belum tentu jalanan menurun itu menarik bagi pelari.

Hal yang perlu diperhatikan untuk lari trail ini adalah outfit. Penggunaan sepatu tentunya sangat disarankan yang memang jenis trail agar sesuai dengan karakter trek. Saya menggunakan sepatu "jalan raya" yang memang cenderung rata, sehingga tidak banyak membantu di medan licin. Namun, kalau hanya bebatuan dengan medan yang landai, tak ada masalah selama tidak turun hujan. Juga pilih sepatu yang cukup tahan air, karena tidak nyaman berlari dengan sepatu dan kaos kaki basah.

Jaket juga perlu dipertimbangkan. Untuk suhu rendah mungkin ketahanan orang bisa berbeda. Saya masih bisa merasa cukup nyaman hanya dengan menggunakan kaos IndoRunners dan celana pendek. Namun jika turun hujan, tetap perlu jaket yang tahan air. Atau, ya pakai jas hujan.

Namun leher dan kepala saya yang tidak kuat terhadap suhu dingin tersebut. Hal ini bisa menyebabkan pusing serta membuat otot leher menjadi kaku. Jadi saya perlu mempertimbangkan tutup kepala untuk trail berikutnya.

Nutrisi dan logistik juga perlu. Carbo loading dan sarapan sebelum berlari. Karena udara dingin, kadang kita juga perlu kalori tambahan. Energy bar atau pisang juga boleh untuk cemilan di tengah perjalanan. Air minum untuk menghindari dehidrasi. Memang terkesan rutenya pendek, hanya 5K. Namun waktu tempuh yang hampir satu setengah jam juga perlu diperhatikan.

Dan yang pasti, pemanasan (warm-up) dan peregangan (stretching) menjadi sangat perlu untuk suhu dingin dan trek ekstrim ini. Jadi, tidak boleh bandel dan malas untuk pemanasan.

Setelah berhasil menyelesaikan tantangan, kontingen IndoRunners melanjutkan dengan makan siang berjamaah di daerah Punclut.

Terima kasih untuk teman-teman IndoRunners cabang Bandung yang telah mengorganisir acara ini dan mengundang kami. Dan tentunya kami dari IndoRunners cabang Jakarta akan menyambut dengan tangan terbuka jika ada pelari dari luar kota yang ingin bergabung dengan lari jalan raya bergaya urban khas Ibukota.

— Adham Somantrie.

Catatan: Foto-foto diambil oleh Aki Niaki, Bu Yustrida, dan Om Wailan. Video diambil oleh Bu Yustrida.

Tagged in: trail lari run

Mega Kuningan Half Marathon

Posted on 2012-01-11 05:43:24. 923 views.

Sabtu (07/01) kemarin, dengan setengah nekad dan setengah tekad saya melakukan lari setengah marathon (half marathon) untuk pertama kalinya. Memang bukan lomba resmi, hanya berlari seorang diri. Mirip Xperiathon, tapi tidak ada kompetisi. Memang untuk tahun 2012 ini, target saya adalah menamatkan lomba lari half-marathon.

Untuk rutenya, saya memilih Kawasan Mega Kuningan karena faktor lokasi yang dekat dengan tempat tinggal saya. Selain itu, juga karena lingkungannya yang cukup kondusif serta cukup sepi dari lalu lintas saat akhir pekan. Video berlari saya di Mega Kuningan pada Februari 2011 ada di sini.

Musim hujan tentunya menjadi momok tersendiri bagi para pelari luar ruangan. Namun cuaca mendung dan hujan gerimis merupakan suatu berkah untuk saya pribadi karena saya tidak akan kepanasan. Bahkan, tetap teduh jika sudah melewati pukul 08.00 pagi.

Jarak terjauh yang pernah saya tempuh adalah saat lomba Adidas KOTR, yakni 16.8 km. Maka saya perlu tambahan sekitar 4 km. Walaupun sepatu Adidas ClimaCool Ride berhasil mengantar saya ke garis finish saat lomba SCSM kategori 10K pada Desember kemarin, namun saya belum yakin kenyamanannya untuk jarak 21K. Untuk itu, saya terpaksa membongkar kardus dan "menghidupkan kembali" Nike Air Turbulence+ yang sudah sobek bagian dalamnya itu. Dengan bantuan selembar plester penutup luka, diharapkan sepatu ini bisa digunakan tanpa gangguan dari plastik cangkang yang sebelumnya selalu menusuk kaki.

Nike Air Turbulence

Hujan memang turun pada malam sebelumnya. Bahkan hingga subuh. Namun sekitar pukul 06.00 WIB saya sudah bisa memulai lari setelah melakukan pemanasan sebelumnya. Untuk mengukur jarak, saya mengandalkan Nike+ Sportband yang sudah dikalibrasi. Tingkat keakuratannya mencapai 97.5%.

21 km tentunya bukan jarak yang dekat untuk pelari amatir, apalagi saya belum pernah mencapai jarak tersebut. Namun, kekuatan fisik hanyalah 10%, 90% sisanya adalah kekuatan pikiran. Saya menggunakan target bertahap: 5K, 10K, 16.8K, dan 21K. Saat start, kejar angka 5K di dalam benak. Setelah 5K tercapai, lalu pusatkan pikiran untuk 10K. Dan seterusnya. Metode ini berhasil untuk saya pribadi untuk menghilangkan persepsi bahwa 21K itu jauh.

Mega Kuningan bukanlah area yang luas. Sekali mengelilinginya hanyalah sekitar 2 hingga 4 km, tergantung variasi rute. Untuk jarak 21K, tentunya saya perlu berlari dengan banyak putaran berulang (looping). Dengan kondisi gerimis halus, tidak banyak yang berlari pada pagi itu. Mungkin saya terlihat seperti orang gila yang terus-menerus berlari mengelilingi Mega Kuningan tanpa henti. Tapi ingatlah, 90% kesuksesan berlari adalah kekuatan pikiran. Jadi konsentrasilah hanya pada lari.

Untuk kebutuhan hidrasi, karena ini bukan lomba resmi, maka tidak ada water station. Sehingga saya harus mampir di warung yang ada di pinggiran Mega Kuningan untuk membeli air minum dalam kemasan botol sehingga bisa saya bawa saat berlari. Ketika air minum habis, maka saya kembali mampir untuk membeli kembali.

Di kantong celana, saya membawa camilan energi (energy bar) untuk asupan nutrisi. Setelah memasuki KM 10, maka saya mengkonsumsi energy bar dan minum sambil berjalan kaki. Karena saya termasuk orang yang makannya lambat, maka "pengisian" ini saya lakukan sekitar 700 m.

Menjelang KM 11, sekitar pukul 07.30 hujan mulai turun dengan deras. Saya terpaksa berteduh di pos parkir gedung terdekat. Sekitar pukul 08.15 hujan sudah mulai reda, dan saya melanjutkan lari.

Di KM 16.8 hingga KM 17.8 saya kembali melakukan "pengisian" sambil berjalan kaki. Setelah itu, tentunya sisa perjalanan sudah tinggal sedikit, kurang dari 3.5 km. Namun realisasinya tidak segampang itu. Walaupun sudah beristirahat dan mengisi tenaga, badan sudah mulai merasa jenuh, kaki pun sudah mulai terasa pegal. Yak, di sini lah kekuatan pikiran itu menjadi penting. Sebelumnya saya sempat hit the wall mau berhenti di KM 15. Namun sebagai penamat KOTR 16.8K tentunya saya tidak boleh menyerah di KM 15.

Hingga akhirnya saya berhasil mencatatkan jarak 21.21 km di Sportband dengan waktu bersih 2:48:03. m/

Pesan moralnya adalah, untuk lari jarak jauh fisik saja tidak cukup, mental juga harus dilatih. Sebelum ini, saya tidak pernah berlari lebih dari 10K pasca Adidas KOTR pada akhir September 2011. Sebelumnya juga saya tidak ada persiapan untuk half-marathon. Inilah alasan mengapa di awal tulisan saya bilang setengah nekad.

Tetapi, walaupun tanpa persiapan yang baik, saya tetap melakukan perhitungan yang baik. Untuk jarak, sebagai penamat Adidas KOTR 16,8K tentunya menambah 4 km masih masuk akal. Untuk fisik, selain istirahat yang cukup, tentunya perlu asupan energi yang cukup. Pengisian tenaga (carbo loading) harus dilakukan sebelum berlari. Dan alat bantu pemantau detak jantung (heart rate monitor) saya anggap penting untuk mengawasi kondisi jantung, agar tidak terlalu dipaksa (over-trained).

Manajemen waktu dan tenaga sangat penting. Saya mengambil KM 10 dan KM 16.8 untuk mengkonsumsi energy bar. Jangan lupa minum air untuk mencegah dehidrasi. Namun jangan terlalu banyak minum air, agar tidak terguncang di dalam perut. Kondisi perut tentunya jangan kosong, namun juga jangan penuh. Tahan kecepatan, terutama di 10KM pertama. Saya menurunkan kecepatan 10-20% guna menghemat energi untuk di paruh kedua.

21K memang bukan jarak yang dekat, waktu tempuh juga tidak sebentar. Para pemula biasanya membutuhkan waktu lebih dari 2 jam, bahkan lebih dari 3 jam. Agar tidak bosan selama berlari, penggunaan iPod sebagai hiburan cukup disarankan.

Pencapaian ini penting secara pribadi sebagai pembuktian (proof of concept) bahwa menamatkan half-marathon itu bukanlah suatu yang mustahil bagi saya sekarang. Ini dapat menjadi motivasi untuk half-marathon berikutnya, termasuk saat berlomba. Jadi saya akan terdorong untuk menyelesaikan 21K jika kembali menyerah di tengah lomba. Juga menjadi perbandingan (benchmark) catatan waktu untuk latihan maupun lomba 21K berikutnya.

Terakhir, karena ini half-marathon perdana bagi saya, maka catatan waktu tidak begitu penting. Yang penting adalah menyelesaikan lari. Untuk catatan waktu, bisa dipertajam di kemudian hari.

Jadi, untuk teman-teman pelari yang saat ini sedang berlatih untuk half-marathon, semoga pengalaman lari half-marathon perdana saya ini dapat memberi semangat. Mari lari!

— Adham Somantrie.

Tagged in: lari run

Heart Rate Target Zone Calculator

Posted on 2011-12-21 07:01:34. 504 views.

Sebelumnya saya sudah menuliskan tentang pemantau detak jantung yang bisa digunakan saat berlari. Juga sedikit ulasan mengenai Polar Wearlink+ yang saya gunakan dengan Nike+.

Lalu, apa sebenarnya guna dari memantau detak jantung ini? Tentunya dengan semakin lengkap informasi mengenai olahraga kita, maka kita dapat lebih mengoptimalkan olahraga tersebut. Misalnya untuk mengetahui apakah kita kurang maksimal atau malah terlalu berlebihan?

Nah, detak jantung setiap individu itu unik. Tentunya untuk menganalisa kondisi jantung bukanlah hal yang gampang. Anda mungkin perlu mengunjungi dokter untuk analisa yang akurat. Namun, secara praktis tentunya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai orang awam.

Salah satunya dengan menghitung zona atau rentang detak jantung yang optimal. Apakah untuk sekedar "menggerakkan badan", atau untuk mencapai batas maksimal kemampuan tubuh. Berlari secara "penuh" (all-out) dalam durasi yang cukup lama tentunya tidak baik juga untuk tubuh. Ada rentang tertentu yang mesti dijaga agar lari menjadi optimal, baik itu tujuannya untuk membakar lemak atau memang untuk meningkatkan kinerja.

Saya mencoba membuat aplikasi berbasis web untuk mengkalkulasikan zona detak jantung di alamat berikut, http://adha.ms/apps/heartrate/. Untuk menghitung, ada beberapa informasi yang dibutuhkan: usia, detak jantung saat tidak berolahraga (resting heart rate), dan jenis kelamin. Informasi detak jantung maksimal bersifat tidak wajib (optional). Jika tidak dimasukkan, maka aplikasi akan menghitung detak jantung maksimal Anda berdasarkan usia dan jenis kelamin. Tentu saja, karena setiap individu itu unik, maka akan lebih akurat jika Anda punya data mengenai detak jantung maksimal Anda.

Semoga lari Anda bisa lebih optimal.

— Adham Somantrie

Tagged in: run lari app

Standard-Chartered Singapore Marathon 2011

Posted on 2011-12-11 12:11:32. 554 views.

Sejak pertama kali mulai berlari sebenarnya saya terinspirasi Nike+ Human Race dan bercita-cita untuk berpartisipasi pada Nike+ Human Race 10K di Singapura. Namun, karena tahun 2011 ini tidak ada lagi Nike+ Human Race, maka saya pun berpaling ke Standard-Chartered Singapore Marathon 2011.

Saat mendaftar pada Mei 2011, saya belum pernah menamatkan satu pun lomba lari 10K. Tetapi saya yakin karena masih ada waktu hingga Desember 2011 untuk berlatih. Milo Jakarta 10K 2011 menjadi lomba 10K pertama saya, yang disusul dengan Adidas King of The Road dengan jarak 16.8K. Pencapaian 16.8K ini sebenarnya membuat saya berpikir ulang mengapa saya hanya mengambil kategori 10K untuk SCSM 2011.

SCMS 2011 ini merupakan lomba internasional pertama yang saya ikuti. Karena bukan 10K yang pertama dan bukan jarak terjauh saya, maka saya menetapkan target catatan waktu terbaik pribadi (personal best timing) pada lomba kali ini, 1:10:00. Pencapaian sebelumnya masih berkisar antara 1:16:00 hingga 1:26:00.

Berangkat dari Jakarta pada Sabtu (03/12) dengan penerbangan jam 7 pagi. Saat proses imigrasi, bertemu dengan Mas Didiet plus Mbak Tutik dan juga Mas Rustaman yang ternyata mereka satu penerbangan dengan saya. Setibanya di Changi, ternyata ada Mas Anton juga yang sudah tiba terlebih dahulu dengan penerbangan yang berbeda. Dengan MRT kami berlima pun menuju tempat pengambilan paket lomba (race pack). Walaupun sedikit nyasar, akhirnya kami pun tiba di Marina Bay Sands Expo. Selain nomor dada (bib) yang dilengkapi dengan RFID, juga ada singlet Asics seragam resmi lomba dan beberapa merchandise dari sponsor.

Adidas ClimaCool Ride yang belum genap berusia seminggu menjadi andalan untuk menyentuh aspal jalanan Singapura dalam lomba kali ini. Untungnya sepatu ini sudah saya ujicoba terlebih dahulu, sehingga saya pun sudah mempersiapkan Hansaplast untuk mengakali kaki lecet dan melepuh (blistered).

Berangkat dari penginapan sekitar pukul 05.30 SGT, saya mendapati isi MRT adalah para pelari SCSM 2011. Saya pun bertemu dengan Mia di stasiun Dhoby Ghaut yang kebetulan sama-sama mengambil kategori 10K sehingga bisa bersama-sama saat menitipkan tas dan menuju garis start di Esplanade Bridge.

Bersama Oki, Bertha, Mia, Gede, Rico kami berhasil mendapat posisi start di depan. Walaupun ternyata posisi terdepan diisi oleh kalangan terbatas (VIP). Tentu saja, start terdepan tidak berarti finish terdepan. Tercatat 12.047 peserta untuk kategori 10K. Ternyata start dilakukan dalam beberapa tahap (batch). Beruntung kami start di tahap pertama pada 07.15 SGT, selain selisih waktu antara chip time dan gun time yang tipis, juga cuaca sejuk karena relatif masih pagi.

Dengan target 70 menit untuk 10 km, tentu saya dapat dengan gampang mengukur kecepatan lari: 7 menit per km. Hanya sayangnya, karena sedikit kecerobohan, armband miCoach tertinggal di Jakarta sehingga saya tidak bisa membawa serta iPhone untuk berlari. Artinya, tidak ada musik dalam lari kali ini. "Run without tunes" kata Rian sembari menertawakan keteledoran saya. Tanpa iPhone saya juga tidak bisa melacak rute lari saya menggunakan GPS.

Berlari bersama dengan ribuan pelari, tentunya akan membuat adrenalin meningkat. Konsekuensinya ada 2: semakin terpacu untuk kencang; dan, detak jantung menjadi lebih cepat, yang membuat kita lebih cepat letih. Namun sorakan semangat (cheers) dari para sukarelawan yang kebanyakan adalah gadis belia tentunya benar-benar membangun semangat. Belum lagi Rian yang saat itu menjadi coach dadakan yang terus memaksa saya untuk terus berlari mengejar catatan waktu terbaik.

Alhasil, menjelang garis finish, tampak jam digital Seiko besar yang menunjukkan waktu saya tinggal beberapa detik saja untuk mengejar target. Alhamdulillah, saya berhasil melintasi garis finish dengan catatan waktu 1:09:59. Satu detik lebih cepat dari target. Waktu bersih (chip time) tentunya lebih cepat, walaupun hanya berbeda 2 detik saja. Tidak sia-sia saya sudah mengeluarkan biaya dan datang jauh-jauh, semua terbayarkan ketika berhasil memecahkan rekor pribadi dan tentunya meraih medali penamat (finisher medal).

Sedikit kabar buruk adalah mengenai area acara di The Padang yang becek karena hujan yang menyirami Singapura malam sebelumnya. Tak ayal, sepatu yang baru saja menyelesaikan lomba pertamanya dipaksa bermain dengan lumpur demi menghampiri tenda pengambilan medali dan konsumsi. Yuck! Urusan mencuci sepatu sesampainya di Jakarta memang menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Lomba yang disusun serta diatur dengan apik dan juga eksekusi yang baik memang memberikan pengalaman yang mengesankan bagi partisipan. Dengan dukungan sponsor dan juga pemerintah, lomba pun berjalan lancar. Lebih dari setengah hari, sebagian jalanan di Singapura ditutup untuk penyelenggaraan lomba lari ini. Bahkan MRT beroperasi di luar jam normal khusus untuk lomba ini. Ah, kapan di Indonesia bisa seperti ini? Oktober kemarin saja lomba lari Standard-Chartered Indonesia Half-Marathon yang diadakan di Ragunan pesertanya hanya ratusan orang saja untuk kategori 21K dan 10K. Sementara SCSM 2011 tercatat sekitar 65.000 peserta untuk keseluruhan kategori, termasuk kid dash.

Saya kembali ke Jakarta pada keesokan harinya, penerbangan pada Senin (15/12) siang yang sudah disamakan dengan Mbak Nitta plus Bang Edo. Tapi ternyata, Mia dan Allan pun menggunakan penerbangan yang sama. Pun, lagi-lagi Mas Didiet dan Mbak Tutik. Ditambah lagi, Mas Heru dan beberapa rekan dari SCB juga bergabung di penerbangan yang sama! Kabin pesawat siang itu pun ramai dengan para peserta SCSM 2011.

Sampai jumpa di BII Maybank Bali Marathon, April 2012 mendatang!

— Adham Somantrie.

Tagged in: lari run singapore

Singapore MRT Beroperasi Lebih Awal untuk SCSM 2011

Posted on 2011-11-25 08:36:59. 540 views.

Singapore MRT, sebuah layanan transportasi yang mungkin sangat diidam-idamkan oleh warga Indonesia, terlebih warga Jakarta. Menjelang SCSM (Standard Chartered Singapore Marathon) 2011, diumumkan bahwa khusus untuk tanggal 4 Desember 2011, layanan transportasi ini beroperasi lebih awal dari biasanya. Jika biasanya layanan baru dimulai pada 05.00 AM SGT (Singapore Time, GMT +08.00), maka pada hari berlangsungnya SCSM akan beroperasi mulai pukul 01.00 AM SGT.

SBS Transit bahkan lebih dahsyat. Tidak hanya sekedar beroperasi lebih awal di tanggal 4 Desember, tetapi beroperasi non-stop semalaman dari tanggal 3 Desember hingga 4 Desember [1]. Hanya saja di luar jam operasi normal ini frekuensinya menurun hingga per 15 menit. Hal ini dapat dimaklumi karena diprediksi kebutuhan serta tingkat okupansinya cenderung lebih rendah di tengah malam.

Hal ini cukup menarik karena saya yakin ini bisa terjadi karena koordinasi dan kerjasama yang baik antara pihak panitia lomba, pemerintah, dan perusahaan operator jasa transportasinya. Alhasil sebuah gelaran olahraga pun bisa memberi nilai untuk pariwisata negara tersebut. Pelari asing mau ke Singapura untuk berlomba tentunya selain faktor acara juga karena ketersediaan infrastruktur dan layanan publik yang baik dan menunjang.

Bagaimana dengan Jakarta? Untuk urusan transportasi "lembur" mungkin hanya terjadi saat malam tahun baru atau malam menjelang hari raya. Mungkin TransJakarta Busway bisa lembur beroperasi saat tahun baru. Tapi saat lomba lari? Coba kita kilas balik Jakarta 10K 2011. TransJakarta Busway koridor 1 (Blok M - Kota) justru tidak beroperasi saat berlangsungnya Jakarta 10K 2011[2]. Ironis ya?

Memang sepertinya transportasi di Jakarta ini tidak boleh bagus dan nyaman, sehingga orang tetap akan berupaya untuk memiliki kendaraan pribadi, baik itu sepeda motor ataupun mobil. Padahal secara konsep harusnya busway bisa lebih baik dan lebih nyaman dari saat ini.

Masih mau kampanye Enjoy Jakarta?

[1] North East Line To Operate Overnight For The Standard Chartered Marathon 2011

[2] Ada Lomba Lari 10K, Busway Blok M-Kota Tidak Beroperasi

Tagged in: lari run singapore

Xperiathon: Xperia + Marathon

Posted on 2011-11-15 08:25:07. 533 views.

Setelah meluncurkan SonyEricsson Xperia active —ponsel cerdas berbasis Android yang menyasar segmen pengguna gaya hidup aktif dan olah raga— Sony menyelenggarakan Xperiathon, sebuah lomba lari marathon dan half-marathon secara daring (online). Beberapa tahun yang lalu Nike pernah menggunakan konsep serupa dengan gelaran Nike+ Human Race sebagai acara aktivasi untuk produk Nike+. Bisa jadi ini merupakan jawaban Sony untuk MotoACTV yang dikaitkan dengan NYC Marathon 2011.

Untuk berpartisipasi dalam lomba lari Xperiathon ini, Anda harus menggunakan aplikasi penjejak (tracker) lari yang telah ditentukan: Endomondo, MapMyFitness, atau RunKeeper. Anda tidak perlu memiliki Xperia active, karena ketiga aplikasi ini dapat berjalan di ponsel Android lain. Ketiga aplikasi tersebut juga tersedia untuk iPhone, BlackBerry, Nokia, atau Windows Phone. Anda tinggal mendaftar di situs xperiathon.com lengkap dengan informasi akun aplikasi yang akan Anda gunakan. Gratis! Nanti Xperiathon akan meninjau hasil lomba yang tercatat dari aplikasi tersebut.

Jarak yang dilombakan adalah kategori marathon (42,195 km) dan half-marathon (21,0975 km). Hasil lomba Anda akan digugurkan jika melebihi 6 jam 30 menit. Untuk Anda yang tidak termasuk kategori pelari serius, mungkin jarak ini relatif jauh. Sayangnya tidak ada kategori jarak 10K untuk mengakomodasi pelari yang masih baru.

Perlombaan dimulai pada Sabtu, 26 November pukul 12.00 Waktu Eropa Tengah (CET), atau pukul 18.00 WIB. Dan karena lomba ini dilakukan secara daring, maka Anda bisa melakukan lomba di mana saja, dengan rute sesuai dengan keinginan Anda. Bedanya dengan Human Race, di Xperiathon sama sekali tidak ada lomba fisik atau perayaan luring (offline) secara resmi.

Masing-masing juara untuk tiap kategori akan mendapatkan paket perjalanan dan keikutsertaan dalam lomba lari GoteborgsVarvet Half Marathon 2012 atau New York Marathon 2012. Sementara 10 penamat (finishers) tiap kategori jarak akan mendapatkan ponsel SonyEricsson Xperia active.

Tertarik untuk ikut? Mari lari.

Adham Somantrie.

Tagged in: run xperiathon lari

Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+ #2

Posted on 2011-10-24 09:17:17. 740 views.

Melanjutkan tulisan saya mengenai Nike+, maka di tulisan ini ada beberapa informari tambahan baru tentang bagaimana untuk menggunakan Nike+. Saya juga akan mengaktualkan artikel saya yang lama tersebut dengan informasi yang ada di dalam artikel ini.

Pengguna iPod nano generasi keenam kini dapat menggunakan fitur Nike+ tanpa harus menggunakan Nike+ Sportband setelah mengaktualkan firmware ke versi 1.2. iPod nano dapat bekerja hanya dengan mengandalkan sensor accelerometer yang terintegrasi. Namun, jika Anda lebih menyukai sensor sepatu (footpod), Anda tetap dapat menancapkan penerima Nike+ ke iPod nano dan mengukur jarak lari Anda dengan Nike+ sensor di dalam sepatu. Juga untuk menyandingkan iPod nano dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+, Anda perlu menggunakan penerima Nike+ ke iPod nano.

Nike+ SportWatch GPS by TomTom merupakan penerus dari Nike+ SportBand. Sesuai namanya, selain dapat disandingkan dengan Nike+ sensor di sepatu juga merekam rute serta jarak berlari Anda dengan GPS dari pabrikan TomTom. Nike+ SportWatch juga dapat disandingkan dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+ untuk memantau detak jantung Anda selama berlari. Ditawarkan seharga USD 199 sudah termasuk Nike+ sensor dalam paket penjualan, sementara WearLink+ dijual terpisah. Saat tulisan ini diturunkan, baik Nike+ SportWatch maupun WearLink+ belum tersedia secara resmi di pasar Indonesia.

Sekedar opini pribadi, jika iPod nano dilengkapi dengan GPS maka bisa menjadi pesaing kuat untuk MotoACTV. Sementara Nike+ SportWatch GPS punya kemampuan pamungkas untuk Nike+: pelacakan GPS, Nike+ sensor, dan WearLink+; namun minus musik. Tapi bisa menjadi opsi yang menarik untuk pengguna Nike+ Sportband yang ingin naik kelas.

Mari lari™.

Adham Somantrie, Nike+ ID: AdhamPlus.

Tagged in: tutorial ipod nikeplus run lari

Nike Running Shield Pack 2011

Posted on 2011-10-12 07:59:32. 622 views.

Nike meluncurkan jajaran sepatu lari edisi Shield untuk menambah koleksi sepatu lari musim liburan (holiday season) kali ini. Memang tidak ada perubahan tampilan yang signifikan dibandingkan dengan edisi reguler selain pilihan warna baru. Keenam sepatu yang hadir dalam edisi Shield adalah: Free Run+ 2, Lunarswift+ 3, Lunar Fly+, Air Zoom Structure+ 15, Lunarglide+ 3 dan Lunar Eclipse+. Nike edisi Shield hadir dalam warna abu-abu dengan aksen warna oranye untuk pria dan kuning lemon untuk wanita.

Yang menarik dari edisi Shield ini adalah penggunaan material berteknologi Durable Water Repellent (DWR) yang diklaim tahan terhadap berbagai cuaca (weather-proof). Cocok untuk Anda yang suka menghadapi hujan saat berlari. Untuk Anda yang suka berlari di suasana gelap atau malam hari, sepatu edisi Shield ini juga dibalut dengan bahan scotchlite dari 3M yang memantulkan cahaya. Menambah faktor keamanan berlari di jalan raya.

Keenam sepatu tersebut tentunya sudah siap untuk sistem Nike+ (Nike+ ready). Jadi tak perlu khawatir untuk Anda yang menggunakan Nike+ sensor.

Nike Shield ini cukup mengobati kekecewaan saya dengan pilihan warna yang masuk ke Indonesia. Untuk musim gugur (fall season) 2011, Nike Indonesia memasukkan tiga dari lima pilihan warna untuk Nike LunarGlide+ 3. Yang sayangnya, justru saya tertarik dengan pilihan warna kombinasi hitam-putih yang tidak masuk ke pasar Indonesia. Sepertinya saya akan mengunjungi Nike Store untuk menjemput sepasang LunarGlide+ 3 Shield dalam waktu dekat.

Mari lari.

— Adham Somantrie. (AdhamPlus at NikePlus)

Tagged in: lari run nikeplus

Adidas King of the Road Indonesia 2011

Posted on 2011-09-29 14:25:40. 938 views.

Setelah berhasil menyelesaikan Jakarta 10K 2011 beberapa bulan yang lalu, kini tiba saatnya untuk meningkatkan jarak tempuh pada gelaran Adidas King of the Road (KOTR) Indonesia 2011. Awalnya saya ragu dan pesimis melihat angka 16,8 km. Namun karena dorongan semangat dari teman-teman, akhirnya saya memulai latihan untuk 16,8 km.

Saya dan beberapa teman pelari banyak terbantu oleh adiNation of Runners Indonesia (aNR) yang mau memfasilitasi pendaftaran KOTR ini. Awalnya saya mau mendaftar secara daring, hanya sayangnya pembayaran hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit, tidak bisa dengan PayPal seperti SCSM 2011. Juga aNR banyak mendukung para pelari di Jakarta saat Sunday Morning Run (SMR). Bahkan, adiNation juga membantu kami dalam pengambilan paket lomba (race-pack) sehingga tidak perlu ke Ancol.

Karena hari Jumat (23/09) dan Sabtu (24/09) saya mengikuti perkuliahan di Bandung, maka untuk pengambilan paket lomba saya diwakilkan oleh Yasha yang baik hati tidak sombong dan rajin menabung. Setelah perkuliahan berakhir saya langsung meluncur ke Jakarta dengan jasa CitiTrans. Tiba di Jakarta sekitar pukul 23:00 WIB, saya langsung mempersiapkan segala sesuatu untuk lomba dan segera berbaring di kasur. Walaupun ternyata saya baru bisa terlelap pada pukul 01:00.

Subuhnya, saya langsung meluncur ke kediaman Yasha untuk mengambil paket lomba. Dan menuju Ancol bersama Rian yang mengambil kategori 10K. Tiba di Ancol sekitar 5:30, saya langsung menuju garis start. Sementara Rian masih harus mengambil paket lomba terlebih dahulu. 

Walaupun perlombaan dimulai cukup pagi, ternyata cuaca lumayan cerah. Sepanjang lomba saya selalu menyiram tubuh dengan air mineral yang disediakan di stasiun air (water station) setiap 2 km. Untungnya tak seperti pelari lain yang banyak tidak cocok dengan minuman isotonik yang disediakan sponsor, 100 Plus, bagi saya minuman ini cukup membantu hidrasi walaupun sedikit berkarbonat. Hanya saja sepanjang lomba saya melihat detak jantung saya lebih tinggi daripada biasanya saya berlari, 170-190 bpm, mungkin ini efek samping dari kopi yang dikonsumsi saat subuh.

Dengan manajemen waktu dan kecepatan, alhamdulillah yah, saya berhasil menjalani lomba ini dengan baik tanpa cidera. Bahkan mulai dari kilometer kesebelas hingga kilometer terakhir, saya berhasil mendahului beberapa pelari yang sebelumnya mendahului saya di 10 kilometer pertama. Mungkin juga terpengaruh dengan senarai lagu yang saya susun khusus untuk KOTR. Selain dengan Nike+ Sportband yang saya gunakan bersamaan dengan Polar Wearlink+, saya juga menggunakan endomondo walaupun kemampuan GPS di iPhone 3GS tidak cukup akurat. Apalagi setelah marka 5 km saya lupa menutup aplikasi iPod sehingga GPS endomondo tidak aktif hingga titik (checkpoint) 10 km. Sehingga hasilnya seperti di bawah ini.

Saya menjadi orang ke-300 yang melewati garis finish untuk kategori jarak 16,8 km, 02:04:42.5 setelah Fauzi Bowo menembakkan pistol tanda perlombaan dimulai pada sekitar pukul 06:11. Dan saya pun berhasil memperoleh medali kedua saya setelah Urbanathlon Jakarta 2011 kemarin: Adidas KOTR Finisher of 16.8 KM. Catatan waktu bersih saya 02:04:31.7 (chip time). Catatan yang cukup bagus, mengingat target realistis saya adalah di bawah 2:29:59. Walaupun sebenarnya target optimis saya 1:59:59. Mungkin tahun depan saya bisa mengejar target optimis itu. Bukankah Impossible is Nothing?

Pasca menamatkan 16,8 km, sebagai pemegang adiPassport saya diberi kesempatan untuk bersantai di tenda aNR. Tak hanya makanan ringan atau cemilan, ternyata juga tersedia "sarapan" seperti bihun goreng maupun mi goreng. Yang paling penting tentunya berkumpul dan merayakan pencapaian masing-masing dalam lomba lari kali ini bersama rekan-rekan pelari lainnya.

Perhelatan lomba yang cukup sempurna. Hanya saja, di beberapa ratus meter terakhir saya salah ambil jalur. Yang disayangkan, disebebkan oleh tidak ada papan penunjuk arah (direction signage) maupun panitia lomba (race marshall) yang berjaga saat itu. Apakah karena sudah dua jam berlalu panitia bisa meninggalkan tugasnya? Saya rasa tidak. Mereka masih wajib menjaga para pelari hingga batas waktu yang ditentukan untuk DNF (Did Not Finish). Ini satu-satunya kekecewaan saya, hasil saya menjadi tidak valid, walaupun mungkin hanya meleset beberapa puluh meter maupun beberapa menit saja. Mudah-mudahan bisa diperbaiki di Adidas King of the Road Indonesia 2012.

Dan saat ini pun saya sedang bimbang untuk gelaran Standard Chartered Zoo Run di Ragunan nanti, apakah naik kelas ke half-marathon atau mempertajam catatan waktu 10K saja? 

Sampai jumpa di Jakarta RACE 2011 by Four Seasons Hotel!

— Adham Somantrie.

Tagged in: lari kotr adidas run

Polar WearLink+ Transmitter Nike+

Posted on 2011-09-19 09:35:38. 1164 views.

Sekitar setahun lalu, Nike bekerja sama dengan Polar memperkenalkan Polar Wearlink+ Transmitter Nike+ untuk para pengguna Nike+ untuk merekam detak jantung saat berlari. Hari ini memang produk ini belum dapat ditemukan di pasar Indonesia. Untungnya ada rekan pelari yang mau dititipkan ketika mengikuti Hood to Coast 2011.

Berikut pengalaman saya menggunakan perangkat pemantau detak jantung (heart rate monitor) Polar WearLink+ bersama Nike+ Sportband.

Untuk penggunaannya pertama kali cukup gampang. Istilahnya, bekerja bagaikan sulap (it just works like a magic). Cukup kenakan WearLink di dada, tak lupa bagian elektrodanya dibasahi dulu dengan air, lalu tekan tombol "toggle" SportBand selama 3 detik. Lalu proses pemasangan (pairing) akan dilakukan secara otomatis. Selesai, tinggal berlari.

Setelah terpasang dengan WearLink, maka di SportBand akan ada opsi tambahan, yakni BPM (beats per minute). Di aplikasi Nike+ Connect Anda bisa memilih untuk menampilkan frekuensi detak jantung atau tidak di SportBand. Di layar SportBand, selain ada gambar (icon) sepatu jika terhubung dengan sensor sepatu, maka kini akan ada gambar hati (love) jika SportBand terhubung dengan pemantau detak jantung.

Lari perdana saya menggunakan perangkat pantau detak jantung ini saat Thursday Night Run bersama teman-teman IndoRunners malam Jumat (15/09) kemarin. Kesan pertama menggunakan WearLink sebagai lelaki tentunya agak merasa risih. Rasanya seperti mengenakan beha. Mungkin memang butuh adaptasi.

Untuk latihan berbasis detak jantung (heartrate base exercise), dengan WearLink ini akan sangat membantu lari kita menjadi lebih optimal. Tentunya kita perlu mempelajari zona-zona detak jantung yang sesuai bagi kita masing-masing.

Setelah data diunggah ke situs Nike+, seperti biasa kita dapat melihat statistik lari kita. Kini, informasi statistik tersebut tentunya dilengkapi dengan data detak jantung.

Sayangnya Polar WearLink+ Transmitter Nike+ ini hanya bekerja dengan Nike+ SportBand, Nike+ SportWatch, dan iPod nano generasi kelima dan keenam (tentunya dengan Nike+ receiver). Kabarnya dapat bekerja dengan iPod nano generasi keenam, namun tidak ada penyataan resmi dari pihak Apple, Nike, maupun Polar. Nah, sayangnya perangkat ini tidak bisa bekerja sama dengan iPhone, iPod Touch, maupun iPad baik untuk aplikasi Nike+ iPod maupun Nike+ GPS.

Oh iya, WearLink+ ini bisa bekerja dengan SportBand tanpa sensor sepatu. Sehingga Anda dapat menggunakannya untuk memantau detak jantung saja. Misalnya Anda ingin menggunakannya untuk olahraga selain lari.

Sebagai pengguna iPhone, sebenarnya saya berharap aplikasi Nike+ GPS yang saya beli (USD 1.99) dapat bekerja sama dengan sensor sepatu dan pemantau detak jantung ini.

Mari Lari.

— AdhamPlus

Tagged in: lari nikeplus run polar

Asuransi Kebun Binatang Ragunan

Posted on 2011-07-18 20:31:03. 1059 views.

Minggu (17/07) pagi kemarin, saya bergabung dengan teman-teman pelari untuk berlari pagi di Kebun Binatang Ragunan. Selain mencari suasana yang berbeda, juga tentunya lebih segar karena banyak pohon dan lebih sepi karena tidak banyak pesepeda pada gelaran car free day di Jalan Sudirman. Selain itu, aksesnya juga cukup mudah. Saya yang dari seputaran Mega Kuningan cukup menggunakan transportasi TransJakarta Busway. Dan dari Terminal Busway Ragunan tinggal berjalan kaki saja ke Kebun Binatang Ragunan ini.

Tentunya sebagai warga negara yang baik, saya perlu membeli karcis masuk untuk membantu pembiayaan operasional fasilitas publik ini. Beberapa meter dari terminal tersedia loket pembelian karcis. Tarifnya adalah Rp.4.000,- untuk dewasa dan kalau tidak salah Rp.2.000,- untuk anak-anak. Juga tertulis tarif asuransi sebesar Rp.500,- Di kantung saya awalnya ada tiga lembar uang kertas nominal Rp.2.000,-, namun kini hanya tinggal dua lembar saja karena satu lembar sudah digunakan untuk membayar karcis busway.

Saya menyodorkan dua lembar uang dua-ribuan itu ke petugas loket. "Kurang, Pak" jawabnya. Lalu saya terpaksa mengeluarkan dompet dari dalam tas dan memberikan selembar uang lima puluh ribuan. Selesai, tanpa banyak masalah.

Namun, setelah saya pikir kembali. Apakah ini salah satu strategi untuk "memaksa" pengunjung untuk membeli asuransi? Tentunya, sebagai penyedia fasilitas publik, pengelola Kebun Binatang Ragunan ini perlu (bahkan, harus) menyediakan asuransi pada pengunjungnya sebagai perlindungan konsumen. Apalagi resiko yang ada juga cukup berbahaya. Misalnya ketika ada binatang buas yang lolos keluar dari kandangnya.

Jika memang setiap pengunjung wajib membeli dan diberikan asuransi, mengapa tidak digabungkan saja tarif dan karcisnya (bundling)? Misalnya harga karcis menjadi Rp.4.500,- tetapi sudah termasuk asuransi. Bahkan tidak perlu ada karcis tambahan (satu karcis saja), yang artinya lebih hemat dari sisi produksi dan lebih ramah lingkungan.

Tapi kalau memang tidak wajib untuk membeli asuransi, maka pengunjung berhak untuk membeli karcis tanpa asuransi. Yang artinya, petugas loket tersebut tidak berhak menjawab "Kurang, Pak" ketika saya menyodorkan dua lembar uang dua ribuan itu.

Rp.500,- memang relatif kecil dan tidak berharga bagi kalangan tertentu. Tetapi Kebun Binatang Ragunan ini juga bukanlah sebuah tempat rekreasi yang mewah. Kebun binatang ini merupakan fasilitas publik yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan. Bisa jadi, bagi beberapa kalangan, uang Rp.500,- tersebut cukup berat.

Adham Somantrie.

Tagged in: asuransi ragunan lari run

Sukaria!

Posted on 2011-07-11 22:01:30. 1550 views.

Berlari, hobi baru yang saya senangi. Namun tidak salah memang Apple dan Nike membuat sistem Nike+ iPod, karena berlari akan lebih ceria jika ditemani dengan alunan musik. Apalagi untuk durasi yang cukup lama, misalnya di atas 30 menit, berlari tanpa musik terkadang membuat bosan. Yang pada akhirnya kebosanan itu bisa membuat kita malas untuk terus melanjutkan lari. Berlari sambil mendengarkan musik bisa membuat kita untuk tetap bersemangat.

Ada beberapa senarai main (playlist) yang saya buat khusus untuk berlari. Bahkan terkadang spesifik untuk durasi atau jarak tertentu. Umumnya saya mengumpulkan semua lagu yang saya sukai untuk menemani saya berlari di sebuah senarai, lalu memainkannya secara acak (shuffle).

Salah satu lagu yang cocok untuk menemani lari saya adalah Sukaria!.

Yang hebatnya, Anda tidak akan menemukan lagu ini di toko-toko musik. Melainkan dapat diunduh di situs Multiply milik Fay. Sesuai dengan judulnya, lagu ini mencoba untuk membuat para pendengarnya merasa riang gembira dan bersukaria. Tentunya rasa sukaria yang Anda inginkan saat berlari agar dapat semakin jauh dan semakin kencang. Selain raga yang sehat, juga perlu jiwa yang sehat. Jadi, mari berolahraga (apapun olahraganya) dengan sukaria.

Jika lagu ini disediakan secara cuma-cuma untuk diunduh, tidak ada salahnya mendukung dengan berlangganan RBT kan? Untuk pelanggan XL, silakan ketik SMS "SUKA1" lalu kirim ke 1818 untuk berlangganan RBT di ponsel Anda.

Selamat ulang tahun, Maylaffayza! Kapan meluncurkan single terbaru?

Tagged in: lari run nikeplus sukaria

Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+

Posted on 2011-01-17 09:43:33. 4385 views.

Experience Nike+

Sebelumnya saya pernah membahas tentang Nike+ secara umum. Seiring waktu, sudah semakin banyak orang yang menggunakan Nike+ dan bergabung dengan komunitas Nike+ ini. Juga, semakin banyak orang yang penasaran dan ingin menggunakan layanan Nike+ ini, namun tidak tahu bagaimana caranya. Untuk itu saya akan mencoba menjelaskan bagaimana menggunakan Nike+ sesuai pengalaman saya.

Cara yang pertama dan original adalah dengan menggunakan iPod nano yang dilengkapi dengan Nike+ Sport Kit. Nike+ Sport Kit ini terdiri dari Nike+ sensor (in-shoe stride sensor) yang diletakkan di dalam sepatu dan Nike+ receiver yang ditancapkan di iPod nano. Semua iPod nano baik dari generasi pertama hingga generasi terakhir (generasi keenam, saat tulisan ini diturunkan) bisa digunakan untuk Nike+ dengan Nike+ Sport Kit. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda.

Nike+ Sport Kit ditawarkan USD 29 di Apple Store US. Di pasar Indonesia harganya sekitar IDR 300.000,-

Pengguna iPod nano generasi keenam kini dapat menggunakan fitur Nike+ tanpa harus menggunakan Nike+ Sportband setelah mengaktualkan firmware ke versi 1.2. iPod nano dapat bekerja hanya dengan mengandalkan sensor accelerometer yang terintegrasi. Namun, jika Anda lebih menyukai sensor sepatu (footpod), Anda tetap dapat menancapkan penerima Nike+ ke iPod nano dan mengukur jarak lari Anda dengan Nike+ sensor di dalam sepatu. Juga untuk menyandingkan iPod nano dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+, Anda perlu menggunakan penerima Nike+ ke iPod nano.

Kedua, dengan menggunakan iPod Touch mulai generasi kedua (iPod Touch yang dilengkapi dengan speaker dan bluetooth) atau iPhone sejak generasi 3GS yang dipasangkan dengan Nike+ sensor pada sepatu. Tidak perlu menggunakan Nike+ receiver karena sudah terintegrasi di dalam iPod Touch dan iPhone tersebut. Namun, aplikasi ini perlu diaktifkan melalui Settings - Nike + iPod. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda. Pada iOS versi baru, Anda dapat mengunggah data ini langsung melalui perangkat Anda menggunakan wi-fi atau jaringan data seluler.

Nike+ Sensor ditawarkan USD 19 di Apple Store US. Di pasar Indonesia harganya sekitar IDR 250.000,-

Pilihan ketiga, tidak melibatkan iPod maupun iPhone, yakni dengan menggunakan Nike+ Sportband. Ini pilihan yang ekonomis dan praktis untuk Anda yang tidak memiliki iPod/iPhone. Atau untuk Anda yang tidak suka berlari sambil membawa iPod/iPhone. Paket pembelian Nike+ Sportband ini terdiri dari Nike+ Sportband Link yang berupa gelang atau jam tangan, dan sebuah Nike+ sensor. Metode favorit saya adalah mengkombinasikan Nike+ Sportband dengan iPod Shuffle. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui aplikasi Nike+ Connect (sebelumnya Nike+ Utility) di Mac atau PC Anda.

Nike+ Sportband ini ditawarkan USD 59 di Amerika, di Nike Store Indonesia ditawarkan IDR 650.000,-

Nike+ SportWatch GPS by TomTom merupakan penerus dari Nike+ SportBand. Sesuai namanya, selain dapat disandingkan dengan Nike+ sensor di sepatu juga merekam rute serta jarak berlari Anda dengan GPS dari pabrikan TomTom. Nike+ SportWatch juga dapat disandingkan dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+ untuk memantau detak jantung Anda selama berlari. Ditawarkan seharga USD 199 sudah termasuk Nike+ sensor dalam paket penjualan, sementara WearLink+ dijual terpisah. Saat tulisan ini diturunkan, baik Nike+ SportWatch maupun WearLink+ belum tersedia secara resmi di pasar Indonesia.

Pilihan keempat, untuk Anda yang suka berlatih di pusat kebugaran (fitness centre). Beberapa perangkat kardio di gym sudah mendukung sistem Nike + iPod. Jadi Anda hanya perlu menancapkan iPod nano, iPod Touch, atau iPhone Anda pada mesin tersebut. Dan latihan Anda pun akan direkam. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda. Catatan: khusus pilihan ini, saya belum pernah mencobanya karena saya belum pernah ke gym.

Pilihan terakhir, untuk para pengguna iDevices yang menggunakan iOS 4.0 ke atas dan dilengkapi dengan GPS. Misalnya iPhone 3GS, iPhone 4, dan iPad 3G. Cukup dengan membeli aplikasi Nike+ GPS seharga 1.99 USD. Maka Anda dapat menggunakan layanan Nike+ ini tanpa membeli perangkat tambahan lain (Nike+ sensor). Untuk itu, aplikasi ini akan menggunakan informasi lokasi yang didapat dari GPS untuk mengukur jarak dan rute lari Anda.

Aplikasi ini juga dapat digunakan di dalam ruangan dengan memanfaatkan accelerometer. Namun tampaknya Anda akan membutuhkan armband agar iPhone ikut bergerak bersama Anda karena aplikasi akan bergantung sepenuhnya pada accelerometer. Data hasil rekaman lari pada Nike+ GPS akan diunggah langsung dari perangkat Anda menggunakan wi-fi ataupun jaringan data seluler.

Tapi sepertinya Anda perlu mempertimbangkan dengan matang jika ingin berlari sambil membawa iPad.

Tambahan: Sensor Nike+ sebenarnya membutuhkan sepatu yang kompatibel dengan sistem Nike+, yakni yang memiliki ruang khusus di dalam sepatu untuk menyimpan sensor Nike+ ini. Namun, ini bukanlah hal yang mutlak. Anda dapat menggunakan sepatu apapun selama Anda bisa memasangkan sensor ini. Salah satu triknya saya dokumentasikan di YouTube. Yang perlu diingat adalah agar sensor berada pada posisi yang benar: logo Nike dan Apple pada sensor harus menghadap ke atas (melawan gravitasi).

Pemutakhiran: Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+ #2 (24 Oktober 2011). Menambahkan informasi Nike+ yang terintegrasi pada iPod nano generasi 6 dan Nike+ SportWatch GPS by TomTom.

Tagged in: ipod iphone lari run tutorial nikeplus

Nike+ Mendengarkan Detak Jantung Anda

Posted on 2010-06-11 09:26:20. 1804 views.

Polar Wearlink+ Transmitter for Nike+

Setelah Nike+ mengukur jarak tempuh dan jumlah kalori serta menghitung waktu lari Anda, kini Nike+ juga mendengarkan detak jantung Anda. Menyusul produk sejenis seperti Adidas miCoach yang telah ada terlebih dahulu di pasaran.

Nike tidak meluncurkan produk sensor detak jantungnya. Kali ini Nike bekerja sama dengan Polar USA. Polar Wearlink+ Transmitter for Nike+ adalah produk sensor detak jantung untuk konsumer olahraga yang dirancang untuk dapat bekerja dengan sistem Nike+. Dipasarkan dengan banderol USD 69.95.

Dengan merekam kondisi jantung Anda, tentunya kini Anda dapat berlatih dengan lebih optimal. Tentunya dengan data statistik yang telah dirangkum oleh Nike+, Anda dapat menganalisa latihan Anda.

Cukup melingkarkan tali pengikat di dada Anda, tentunya dengan sensor di depan dada. Lalu, Anda tinggal menghubungkan perangkat ini dengan iPod Nano atau Nike+ Sportband Link. Dan, selamat menikmati LariPlus!

Mari Lari — AdhamPlus.

Tagged in: nikeplus lari run polar

Nike+

Posted on 2009-12-29 22:22:14. 10090 views.

Nike plus iPod

Nike Plus (Nike+) adalah salah satu produk kolaborasi dari Nike. Nike Plus awalnya didesain untuk bekerja sama dengan iPod: Nike+ iPod. Konsep Nike Plus adalah merekam aktivitas olahraga dan memproses data tersebut untuk umpan balik dan rekomendasi kepada pengguna.

Cara kerjanya cukup sederhana, sistem ini terdiri dari beberapa elemen: sepatu, sensor, dan penerima data sensor (iPod). Sensor menganalisa gerakan kaki dan memberikan informasi ini kepada penerima data sensor, yakni iPod (langsung, atau dengan perangkat penerima tambahan). Sementara sensor ini diletakkan di dalam sepatu yang didesain khusus sehingga memiliki ruang khusus untuk meletakkan sensor ini.

Data yang diterima oleh iPod akan diproses menjadi informasi mengenai jarak tempuh, waktu tempuh, dan informasi performa pelari lainnya. Karena menggunakan iPod sebagai pemroses, selain pelari dapat mendengarkan musik saat berlari, pelari juga dapat mengetahui informasi seputar performa mereka.

NikePlus.com Sync

Selain itu, data-data ini dapat diproses lebih lanjut di komputer dan di situs NikePlus.com untuk melihat statistik para pelari. Tentunya dengan statistik ini, NikePlus.com juga dapat memberikan rekomendasi dan bimbingan latihan olah raga untuk pelari tersebut. Bahkan, dengan fitur sosial, para pelari dapat membandingkan statistik dan performa mereka dengan pengguna Nike Plus lainnya.

Awalnya, sistem Nike Plus bekerja dengan keluarga iPod nano dengan tambahan penerima. Namun seiring waktu, Apple pun mengintegrasikan perangkat penerima sinyal data dari sensor ini ke dalam iPod Touch mulai generasi kedua dan iPhone 3GS.

Sensor ini sendiri dijual dalam dua paket: hanya sensor (USD 19), dan sensor beserta penerima (USD 29).

Nike plus iPod at Gym

Selain itu, Apple pun mengembangkan konsep ini dengan bekerja sama dengan produsen perangkat fitness dan gym untuk memproduksi alat yang kompatibel dengan sistem Nike + iPod. Sehingga para pengguna iPod dapat menghubungkan iPod mereka dengan alat fitness menggunakan sambungan USB. Tentunya, data dari alat fitness ini juga dapat diproses oleh NikePlus.com

Nike plus Sportband

Dengan Nike+ Sportband (USD 59, sudah termasuk sensor), pelari yang menggunakan sensor Nike+ dapat mencatat performa mereka tanpa perlu iPod. Nike+ Sportband ini bekerja sebagai pengganti iPod untuk menerima sinyal dan memproses data dari sensor. Tentunya, Nike+ Sportband ini tidak dapat menggantikan iPod sebagai pemutar musik.

Nike LunarTrainer+

Memang sistem ini didesain untuk bekerja dengan sepatu yang "kompatibel", yakni Nike+ shoes, seperti Nike LunarTrainer+. Namun, sebenarnya perbedaan sepatu ini dengan sepatu biasa hanyalah pada ruang tempat peletakan sensor. Pinot misalnya, telah berhasil menggunakan sepatu lain dengan sensor ini, bahkan dengan sendal jepit. Sayang sekali sepatu favorit saya, Nike Air Zoom Moire+, yang diluncurkan pada 2006 bersamaan dengan Nike + iPod tidak tersedia lagi di pasaran.

Namun, selain gerakan yang ditangkap oleh accelerometer pada sensor, ternyata tekanan oleh kaki juga diperhitungkan oleh sensor ini. Sehingga, menggunakan sensor ini dengan meletakkannya bukan di bawah telapak kaki pelari akan mengurangi tingkat akurasinya.

— Adham Somantrie.

Tagged in: nikeplus run lari

Site Search

Loading...

Ads

short url service Edward Forrer 30% Off Discount Wadezig! Internet Sehat

Nike+